Apr 22, 2008
Everything Happens for a Reason
A good reason.

Pernah ada satu kejadian dalam hidupku, dulu sekali. Sebelum mengambil keputusan--waktu itu aku berada di antara dua jalur (A dan B) dan harus mengambil salah satunya--, aku berdo'a memohon agar pilihanku nanti adalah yang terbaik, kalaupun ternyata tidak, aku mohon agar dijauhkan.

Akhirnya aku ambil keputusan B karena jalan ke sana sepertinya diberi kemudahan oleh-Nya.

Tapi, ternyata aku tidak bahagia di jalur itu. Nyesel banget rasanya. Tapi, ya mau gimana, dijalani aja sambil berusaha berpikir pasti semua ada hikmahnya--walau saat itu, berpikir positif begitu kok ya rasanya susaaah banget, yang keluar di otak malah pikiran gak bagus tentang do'aku yang gak dikabulkan oleh-Nya.

Waktu pun bergulir. Ternyata kegagalanku di jalur B justru membuka mataku. Memang bukan di sana tempatku. Maka, kutempuh jalur C. Pada awalnya, jalur itu belum menunjukkan hasil yang maksimal.

Namun, akhirnya, perlahan-lahan hikmah kegagalan jalur B mulai terkuak dan aku menimati jalur C, sangat menikmatinya.

Aku langsung teringat pikiran kurang bagusku dulu. Teringat do'aku. Aku minta yang terbaik kan? Dan, Allah really works in such a mysterious way. Allah memang memberikan yang terbaik dengan membiarkan aku mengambil jalur B dan gagal di sana. Andai saat itu aku mengambil keputusan A, memang mungkin aku tetap bahagia. Tapi, aku takkan pernah tahu jalur C, jalur yang bisa membuatku jauh lebih bahagia.

Mungkin Allah juga ingin aku belajar lebih dewasa dalam menyikapi hidup dan lebih ikhlas dalam menjalani hidup.

Sekarang, alhamdulillah, apapun yang terjadi dalam hidupku, aku coba terima dengan ikhlas. Sebagai manusia--dengan segala kekurangan--, kadang aku masih suka gak sengaja berpikir, "Loh, kok gini?" Tapi, pikiranku langsung kuarahkan ke kisahku dengan jalur A, B dan C serta semua hikmahnya. Alhamdulillah, hati jadi jauh lebih tenang.

Kadang, sesuatu terjadi dalam hidup kita dan membuat kita jatuh. Kemudian, kita nggak merasa menemukan hikmahnya. Well, bersabarlah. Karena, mungkin hikmah itu tak terkuak hari ini atau besok. Tapi, memercayai bahwa suatu hari hikmah itu akan muncul--walau berat rasanya--membuat kita lebih tenang dalam menjalani hidup.

*renungan di siang bolong*

Labels: ,

 
ditulis oleh Nadiah Alwi - Write at Home Mom pada jam 11:52 | Permalink | 0 komentar
Apr 20, 2008
What a Weekend!
Wiken kali ini penuh air mata.

Diawali dengan kejadian dini hari (Minggu, 20 April, pk. 02.30) yang membuatku teriak-teriak nggak jelas--kata Abi sih begitu.

Hana jatuh dari tempat tidur! Tau-tau ada bunyi duk! Aku langsung melek dan...my baby was on the floor, tengkurep gitu.

Langsung aku teriak, "Ya Allah!"

Jantung rasanya mau copot, kebayang deh kejadian tiga tahun lalu, saat hana masih baru bisa geser2 pake perut (bukan merangkak) dan jatuh gara2 di luar ada orang dari PLN yang keukeuh bilang aku belum bayar padahal semua billing aku daftarin di kartu kredit dan gak pernah masalah. Sebel!

Kata Abi--aku gak sadar juga aku gimana semalem, aku teriak-teriak nanyain mana yang sakit. Sampai Abi harus, "hush...!"

Huhuhu aku tuh gitu emang kalo udah urusan Hana, suka teriak2 gak sadar gitu.

Hana cuma bilang, ini...itu...sambil nunjuk kaki dan kepalanya. Nangis-nangis juga sih--tapi kata Abi karena aku teriak, dia kaget, bukan karena sakit. Hm...bener juga sih, karena abis itu dia tidur lagi, nyenyak pulak sampe aku takut dia pingsan.

"Tadi itu, kalo Bundanya gak teria-teriak, paling dia lanjutin tidur di bawah," kata Abi.

Huhuhu Bapak2 mang gak panikan banget ya, jadi kesannya aku dah yang histeris gak jelas gitu. Sampe Hana tidur, aku masih nangis2. Feeling so guilty karena harusnya itu nggak terjadi.

Tapi, ya mo gimana...Hana belakangan ini mang kalo bobo agak lasak. Padahal dulu waktu kecil nggak. Entah deh kenapa.

***

Pagi hari diawali dengan tenang. Sarapan seperti biasa. Cariin celana panjang Abi karena dia mo anter ambil barang--resiko kerja sendiri ya gitu, wiken juga kudu bergerak...ya nggak, Rin? Bareng Hana nonton acara Jepan--apa tuh yang dulu di RCTI dan sekarang di Global?--karena Hana suka banget dan aku pikir bagus juga sih, bisa jadi contoh kreativitas buat Hana.

Tiba-tiba, ada telepon masuk ke HP. Dari adikku yang kecil, Ucup. Tumben...

"Kak," suara Mama...kok lemes?

Taunya Mama mau kasih kabar tentang salah satu saudara dekat kami yang meninggal dunia. Tiba-tiba, serangan jantung. Langsung lemes deh aku. Cari Najib, adekku nomor 2, yang lagi di warnet karena memang salah seorang anak Almarhum cukup dekat dengan Najib.

Kami sekeluarga berangkat berlima (Aku, Papa, Mama, Najib, Yusuf) dan Hana aku tinggal di rumah dengan Mbaknya dan salah seorang sepupu yang harus ngerjain tugas jadi gak bisa ikut melayat. Sempet lihat tetangga, tapi nggak sempet nyapa karena buru-buru.

Di sana, duh, jantungku seperti diurut-urut. Sedih banget. Ibu Almarhum sudah sangat tua tapi lagi-lagi harus kehilangan anak lelakinya--anak lelakinya yang bungsu sepuluh tahun yang lalu meninggal dunia karena kecelakaan. Kini, hanya tinggal dua anak perempuannya yang tersisa.

Melihat salah seorang saudara perempuan Almarhum pun begitu. Sepertinya mereka sangat dekat dan sering 'curhat' seperti aku dan Najib.

Melihat anak perempuannya, yang kebetulan sering kudengar ceritanya dari adikku, aku lebih sedih lagi. Rasanya ingin memeluknya lebih lama. Begitu juga saat melihat istri dan anak bungsu Almarhum.

But, he was a very good husband and father. Anak2nya pintar2 dan sopan2. Ia telah meninggalkan keturunan yang baik di muka bumi.

Almarhum sendiri adalah anak dari keponakan Jidahku--tapi usianya hanya beda satu tahun dari Papaku. Keluarga mereka adalah keluarga yang baik dan sangat tulus. Aku yakin, ia berada di tempat yang nyaman sekarang.

Tapi, ya selalu begitu. Masih terasa sedih. Kepergian mendadak seperti itu memang membuat hati lebih ngilu. Aku jadi teringat mantan atasanku yang meninggal tiba-tiba karena serangan jantung. Jadi, sudah dua orang baik yang kukenal yang pegi mendadak dengan sebab yang sama.

It is hard. Tapi, yang harus diingat adalah, ia sudah berada di tempat yang terbaik. Amin.

Labels: , ,

 
ditulis oleh Nadiah Alwi - Write at Home Mom pada jam 20:14 | Permalink | 0 komentar
Apr 11, 2008
Menggandeng / Berjalan dengan Anak di Jalan


Kegelisahan 1:

Dua hari yang lalu, aku lihat anak umur sekitar dua tahunan lagi digandeng ibunya di jalan yang muat satu mobil. Si ibu melenggang di dekat pagar sementara si anak justru di tengah jalan.

Kegelisahan 2:

Kemarin sore, di trotoar jalan raya, ada seorang lelaki (aku ragu itu bapaknya) menggandeng seorang anak berusia sekitar satu setengah tahunan. Memang si anak berjalan di dekat pagar sementara si bapak lebih ke dekat jalan. Di belakangnya ada dua perempuan yang mengikuti (tapi aku nggak yakin salah satu dari mereka adalah ibunya). Dan, ketiga orang dewasa itu mengenakan alas kaki. Sementara, si anak TIDAK pakai alas kaki!

Kegelisahan 3:

Tadi pagi, di trotoar jalan raya, ada seorang ibu menggandeng seorang anak. Dan, si anak TENTU SAJA berjalan di dekat jalan raya!

Kenapa gelisah?



Ya gelisah dong! Sebenarnya bukan baru-baru aja aku gelisah begini. Sudah lama. Bakan sejak aku belum punya anak. Gemeees banget kalau lihat ibu-ibu atau bapak-bapak menggandeng atau jalan bareng anaknya tapi si anak justru di tengah atau lebih dekat ke jalan sementara dia lebih dekat ke tepian -- duh kok susah ngejelasinnya, pokoknya gitu deh, ngerti kan?

Kenapa sih mereka begitu? Apa mereka nggak takut anak yang masih kecil itu keserempet motor kah atau mobil kah? Atau mereka nggak sadar?

Aneh!

Karena, aku aja setiap jalan dengan Hana selalu mengusahakan Hana di tempat yang lebih aman. Atau, kalau dia lagi jalan dengan Mbaknya, aku juga selalu ingetin si Mbak supaya Hana dideketin ke pagar.

Soal anak yang nyeker itu. Masa' sih tega ngebiarin anak sendiri gak pakai alas kaki padahal lagi ujan dan becyek. Kan dingin! Duh, jadi esmosi!

Atau...aku aja ya yang berlebihan? What do you think?

Labels: ,

 
ditulis oleh Nadiah Alwi - Write at Home Mom pada jam 06:34 | Permalink | 0 komentar
Jan 27, 2008
Kenapa Keadaan Orang yang Sudah Hampir Meninggal Justru Membaik?
Have you noticed?

Aku baru ngeh setelah beberapa orang dalam keluarga besarku meninggal dunia. Dan, ternyata hal yang sama terjadi juga dengan Pak Harto.

Setelah dinyatakan membaik--in his critical condition--, beliau justru akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Ada yang punya jawabannya? Bukan jawaban dari segi medis kayak penjelasan Dokter2 Pak Harto barusan di Metro TV. Tapi jawaban yang lebih spiritual gt...

Oh ya, satu lagi. Tanda2 orang yang akan meninggal adalah sesak nafas. Aku yang gak tahu menganggap sesak nafas yang Jidah alami beberapa jam sebelum meninggal itu adalah sesak nafas biasa. Tapi, ternyata aku salah. Dan, beberapa keluarga yang sudah sepuh menyesalkan kenapa aku gak membacakan Surat Yasin ketika Jidah sesak nafas.

Yah, gimana dong? Yang ada di kepalaku saat itu adalah cuma gimana Jidah bisa mendapatkan bantuan oksigen dengan cepat--dibawa ke rumah sakit.

But, I've learned from that experience. Jangan abaikan sesak nafas pada keluarga yang sudah sepuh dan/atau sedang sakit. Pak Harto juga ternyata mengalami sesak nafas sebelum akhirnya meninggal.

Labels: ,

 
ditulis oleh Nadiah Alwi - Write at Home Mom pada jam 19:50 | Permalink | 0 komentar
Dec 31, 2007
Bukan Mendahului Yang Di Atas, tapi...
...kayaknya aku udah 80% pingin menjalani tahun 2008 sebagai seorang freelancer. Waktu si ex boss dulu tanya apa aku dah cari2 kerjaan lagi, aku mantep bilang mo nunggu sampe Desember, baru ngambil keputusan.

Nah ini dah 31 Desember. Besok dah 2008. So, kayaknya ya, 2008 akan jadi tahun SOHO buatku...eh maksudnya SORO (Small Office Room Office) secara kerjanya juag di bed room getoh. Hehehe...

So far, lagi ngerjain project dari temen. Website dan mungkin nanti Company Profile. Masih proses belajar sih. Jadi, masih di-guide sama dia. Apalagi backgroundnya fashion, something new banget buat aku--secara bukan fashionista hehehe.

Selanjutnya? Ya, masih proses penjajagan. Insya Allah ada. Yang pasti masih sambil nulis2 novel n cerpen.

Satu hal tentang being a freelancer adalah serasa naik roller coaster. Deg2an. Dulu, kerja kantoran kan dah jelas sebulan dapet berapa, mo diabisin ke post2 mana aja. Nah, sekarang beda. Semua masih dalam bentuk perkiraan. Yang belom nyampe ke rekening ya berarti belom rejeki. Hehehe...

Tapi, in a way, aku jadi ngerasa lebih deket sama Allah, lebih sering meminta, memohon dan bersyukur. And I'm happy about it.

So, malam ini aku akan menyambut 2008 dengan ucapan syukur karena Allah dah menggiringku ke sebuah keadaan yang dulu hanya merupakan sebuah impian.

Terima kasih juga buat temen2 yang dah mendukung. Tanpa temen2 freelancer di MP, mungkn aku gak akan seberani ini mengambil keputusan--secara aku pada dasarnya tipe org yang lebih suka stabilitas dan gak berani naek roller coaster.

So, selamat tahun baru, temans...semoga 2008 menjadi tahun yang indah buat kita semua...

Amin.

Labels: , , ,

 
ditulis oleh Nadiah Alwi - Write at Home Mom pada jam 12:12 | Permalink | 1 komentar
Dec 14, 2007
Jadi Semangat! Jadi Termotivasi! Jadi Terinspirasi!
Yup!

Thanks to jurnal Nunik, Ryu, dan Mas Ferry, hari ini aku jadi bersemangat. Langsung buka komputer dan ketak-ketik.



Bukan apa2, ada tiga naskah yang HARUS aku sentuh. Tiga2nya novel. Yang satu dah rampung, tapi masih mau aku utak-atik lagi. Yang kedua, dah setengah jadi...masih mikir mo dibikin gmana endingnya. Yang terakhir jg blm selesai, dah tau endingnya, tapi blm kepikir tengahnya.

Huehehehe...aku itung semua sebagai utang ke diriku sendiri. I promised myself to get them done and I have to keep my promise--especially the one I made to myself--, right?

Itu kan buat motivasi kepenulisan ya...

Nah, buat motivasi n inspirasi penerjemahan, ada dua jurnal di MP yang bikin aku semangat juga. Pertama, jurnal Rini yang ini. Kedua, jurnal Femmy yang ini. Bukan jurnal2 terkini, tapi aku mang sengaja intip2 jurnal mereka karena very inspiring.

Terima kasih ya, temans...

Inget jurnalku yang ini? Kayaknya salah satu jalan di persimpangan itu dah melebarkan diri sehingga jalan yang satunya lagi menyempit. Secara aku menggendut selama kerja di rumah--naik 2 kg booo!--, kayaknya si jalan menyempit itu gak muat. Jadi, aku kayaknya mau menyusuri jalan yang lebar aja dulu.

Tapi, spt yang jeng Rini bilang td siang ke aku: "Katanya mo mengalir..."
(Thanks for reminding, Didi)

Hehehe...ya...maka aku akan mengalir. Siapa tahu jalan menyempit itu akan melebar nantinya dan justru mengambil lahan si jalan yang satunya sehingga aku kudu pindah jalur karena bodi dah gak muat lagi.

Well...

Life is about being flexible walopun kita kudu tetep berpegang pada prinsip2 dasar hidup yang kita anut.

Life is about setting priorities walopun kita tetep kudu siap kalo ternyata tiba-tiba prioritas kita terpaksa berubah. (Yang ini muncul abis ngobrol sama sahabat lama barusan di YM...)

Labels: , , , , ,

 
ditulis oleh Nadiah Alwi - Write at Home Mom pada jam 19:59 | Permalink | 0 komentar
Dec 12, 2007
Di Persimpangan Jalan (Lagi)
Lagi2, aku harus berdiri di persimpangan jalan. Ke kanan atau ke kiri?

Semua masih samar memang. Tapi, I have to make up my mind. Mengambil semua resiko yang ada, atau mengambil jalur yang sepertinya aman tp still, aku gak tau apa yang ada di depan?

How I hate to choose.

Selama ini aku selalu membiarkan 'keadaan yang memilihkan.'

Tapi, kayaknya Allah lagi mo 'ngajarin' aku menentukan sikap, gak cuma 'bermanja' sama yang namanya keadaan.

Udah gitu, pas bener di penghujung tahun lagi. Itu berarti, aku mang harus siap2 buat tahun 2008 ini. Hm...aku emang agak suka dengan angka 8 (iya deh, ngaku, gara2 aku sekolah di 8--walo jarang bener dapet angka 8 di rapot! waks! jujur kan?)...jadi, harusnya aku menikmati tahun tsb.

Nah, sekarang tinggal mencoba mengulik-ulik hati, mencari-cari mana yang kira-kira akan jadi baik buatku dan keluarga, sambil berdo'a tentunya. Ya, aku mang lebih suka mendengarkan kata hati ketimbang menghitung-hitung dengan logika. Pernah gak mendengarkan kata hati, akhirnya malah berantakan.

So, hati...please...berkatalah!

Labels: , ,

 
ditulis oleh Nadiah Alwi - Write at Home Mom pada jam 18:38 | Permalink | 2 komentar
Nov 13, 2007
Ternyata Aku Masih Harus Banyak Belajar...
Ingat jurnalku yang ini? Belakangan ini, aku baru menyadari bahwa aku masih harus banyak belajar...

Tapi, sepertinya yang kulakukan ada benarnya...

Kiat Rasululullah Dalam Mengantisipasi Marah :

1. Berusaha untuk diam ketika akan marah, Rasulullah bersabda, Jika engkau marah, maka diamlah. Jika engkau marah, maka diamlah.

2. Berlindung kepada Allah dari syetan yang terkutuk. Jika sedang marah, hendaklah berkata: A'udzubillahi minasy syaithanir rajim (artinya, aku berlindung kepada Allah dari syetan yang terkutuk).

3. Jika sedang marah, berusahalah untuk duduk. Jika ternyata masih marah, maka hendaklah berbaring. Rasulullah bersabda, Jika salah seorang kalian marah dan dia dalam keadaan berdiri, maka hendaklah duduk. Jika masih belum reda marahnya, maka hendaklah berbaring.

4. Berwudhu, sebab wudhu dapat memadamkan kemarahan. Rasulullah bersabda, Sesungguhnya, kemarahan itu berasal dari syetan. Dan syetan tercipta dari api. Dan sesungguhnya, api itu dapat dipadamkan dengan air Jika salah seorang diantara kalian marah, maka berwudhulah.

5. Keluar dari rumah guna menghidari pertengkaran.

(Dikutip dari sini)

Labels: , ,

 
ditulis oleh Nadiah Alwi - Write at Home Mom pada jam 01:22 | Permalink | 2 komentar
Nov 5, 2007
Kepergian Seorang yang Teramat Baik - KH Masyhuri Syahid MA
Semalam, aku dan keluarga menerima kabar duka cita dengan sangat terkejut. Sahabat dan guru Papa—seluruh keluargaku—dipangil oleh-Nya.

KH Masyhuri Syahid MA. Seorang ulama besar. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI

Seorang dengan penuh kebaikan, dengan suaranya yang lembut, dengan kaih sayangnya terhadap semua orang, dengan kesederhanaannya, akhirnya meninggalkan kami semua.

Aku mengenalnya pertama kali saat mengikuti TPA Daarul Qur'an yang diadakan di rumah beliau yang tak jauh dari rumahku. Terkadang beliau sendiri yang mengajar, terkadang guru yang lain.

Begitu banyak yang kupelajari dari beliau.

Namun, ada satu hal yang tak pernah kulupakan seumur hidupku.

Seorang ulama besar, mengantarku, anak seorang muridnya yang juga muridnya, pulang dengan becak bersama anaknya hanya karena aku belum dijemput dan beliau khawatir jika aku pulang sendiri. Kami bertiga duduk di atas becak, mengobrol.

Setelah itu, hubungan keluarga kami semakin dekat. Terlebih karena setiap minggunya beliau mengajar di Mushalla kecil di depan rumah Papa hingga penutupan pengajian sebelum Ramadhan terakhir kemarin. Ia tak pernah pilih-pilih dalam mengajar. Di mana pun beliau mau, tak peduli ke rumah si miskin atau si kaya. Dulu, ketika masih agak muda, beliau tak keberatan jika dijemput dengan motor. Kesederhanaan beliau menginspirasi kami semua.

Aku paling senang jika bertemu dengannya. Tak pernah ia melupakanku dan selalu mendo’akan jika bertemu. Hanya saja, aku menyesal, belakangan ini aku tak pernah lagi menyambangi rumah beliau seperti saat aku masih kecil dulu. Tapi, alhamdulillah kami beberpa kali bertemu di pernikahan atau saat melayat.

Tak kulupakan juga jasa beliau yang telah mengantar Kakek, Nenek dan Oomku dengan do’a saat mereka menghadap-Nya. Serta terima kasihku kepada beliau saat beliau menjadi saksi pernikahanku.

Hujan rintik-rintik pertanda seorang kekasih Allah telah pergi. Dan, baru saja, setelah rombongan pengantar jenazah beriringan di depan rumahku, langit tak lagi mendung.

Ya Allah, betapa ia orang baik dan penuh kasih. Aku tahu, Engkau sedang menerimanya dengan suka cita. Hanya, kumohon, hadiahilah kami dengan ulama lainnya yang sebaik dan setulus beliau, karena sekarang kami sangat kehilangan…belum dua puluh empat jam ia menutup mata untuk selamanya, kami sudah merindukannya…

Selamat jalan, Ustadz Masyhuri, terima kasih sudah menjadi penerang hati kami selama ini…

Labels: ,

 
ditulis oleh Nadiah Alwi - Write at Home Mom pada jam 13:17 | Permalink | 0 komentar
Nov 4, 2007
Anak Yatim
Kebetulan karena jurnal sebelum ini ngebahas tentang anak yatim, jadi pingin nanya...sebenernya batas usia seseorang bisa dibilang anak yatim itu sampe umur berapa ya?

Just wondering...dan penasaran.

Hmmm...

Labels:

 
ditulis oleh Nadiah Alwi - Write at Home Mom pada jam 01:42 | Permalink | 0 komentar
Oct 24, 2007
Dia Tidak Punya Abah…

Dalam hidup, aku selalu dikelilingi wanita-wanita hebat, bukan hanya Jidah dan Mama, tapi juga Ibu Mertuaku yang biasa kupanggil Ummi (Mamanya si Abi).

Ummi adalah seorang wanita pemberani. Aku selalu tertakjub-takjub setiap mendengar kisah-kisah keberaniannya. Mulai dari menantang Polisi, Brimob, bahkan penjahat dalam angkot dan preman toko onderdil.

Kenapa Ummi sampai bisa seberani itu? Ternyata karena Ummi begitu berserah kepada Allah SWT.

Kata Ummi, “Kenapa musti takut? Ada Allah! Allah-lah yang akan menolong kita.”

Tapi, dari semua kisah Ummi-ku tercinta itu, ada satu kisah lainnya yang paling kusukai—Ummi senang sekali bercerita. Kisah satu ini melibatkan Alm. Abah-nya Ummi (Jid-nya Abi).

Begini ceritanya…

Pada suatu pagi, Ummi baru saja selesai bersiap-siap ke sekolah (Ummi masih SD). Ummi pun pamit kepada sang ayah yang biasa dipanggilnya Abah.

“Bah, saya jalan dulu ya…”

Ternyata Ummi mengharap uang saku seperti yang diberikan Abah kepada seorang anak yatim—kerabat Ummi—, si A (aku lupa namanya siapa, sorry) yang tinggal di rumah Ummi. Tapi, Abah tidak memberikan uang saku seperti harapan Ummi.

Lalu Ummi pun meminta, “Bah, boleh minta ongkos ya? Sekolah saya kan jauh…musti muter…”

“Tidak perlu, ya nisa annabi,” jawab Abah—Abah memanggil semua anak perempuannya dengan ‘nisa annabi.’

“Tadi si A dikasih uang jajan, padahal sekolahnya dekat.”

“Ya nisa, si A memang dapat uang saku, tapi dia tidak punya Abah. Kamu tidak punya uang saku, tapi kamu masih punya Abah,” seru Abah sambil berurai air mata dan memeluk Ummi.

Akhirnya, Ummi tak bisa berkata apa-apa dan justru ikut terharu.

Setiap kali Ummi menceritakan kisah yang ini, aku selalu merinding dan ingin menangis saja—alhamdulillah Ummi sering lupa sudah menceritakannya kepadaku, sehingga hatiku tersentuh lagi dan lagi.

Betapa kadang kita merasa kesal kepada anak-anak yatim—karena kadang ada beberapa yang salah arah karena tak dapat bimbingan orang tua. Tapi begitu jarang kita menyadari bahwa mereka tak berbapak—bahkan tak berbapak tak beribu jika yatim piatu.

Semestinya, kita lebih bisa memahami keadaan mereka. Dan, selanjutnya, bersyukur karena kita masih punya orang tua—lengkap. Lalu, jika mampu, membantu dan membimbing mereka semaksimal mungkin.

Labels:

 
ditulis oleh Nadiah Alwi - Write at Home Mom pada jam 12:58 | Permalink | 1 komentar
Sep 12, 2007
Itulah Gunanya Emas...
Aku dan Mama nggak terlalu tertarik pada perhiasan. Beda dengan Jidah (Nenekku) yang suka mengoleksi berbagai jenis perhiasan. Karena itu, biasanya, perhiasan yang aku dan Mama punya adalah pemberian Jidah (Hm...tapi Mama masih ada sih yang beli sendiri, aku gak kayaknya hihihi).

Oh ya, ini maksudnya perhiasan yang dari emas ya.

Waktu mau dilamar Abi, aku ditanya mau perhiasan apa. Aku bilang apa aja deh, tapi maunya emas putih. Maka itu pun yang dibeliin si Abi. Tapi, taunya Umminya Abi juga kasih perhiasan (surprise gitu maksudnya kayaknya), emas kuning. Hehehe...secara mertua yang ngasih aku senyum2 aja.

Tapi, sekarang aku justru melihat sisi lain kegunaan perhiasan. Tadi siang ada urusan di pasar, mampir ke toko emas punya Papanya temen baik yang kebetulan aku lewati, sekalian silaturahmi mo puasa. Di sebelahku ada ibu2 muda lagi jual emasnya, masih tawar-menawar dengan penjaga toko yang lain(iya, ngaku, aku agak nguping hihihi...).

Kayaknya si Ibu itu gak terlalu rela melepas perhiasannya.

"Bagus nih, emas putih. Naikin dong. Kalo gak BU juga gak jual."

"Loh, emang itu kan gunanya emas, Bu. Kalo butuh uang ya dijual. Ya udah deh, saya naikin segini ya..."

"Ya udah deh."

Hm...sebelum si Ibu itu menerima uangnya, aku dah pamit ke si Oom, Papa temenku itu. AKu jadi senyum2 sendiri.

Beberapa waktu yang lalu, aku pernah melakukan apa yang Ibu itu lakukan. Tapi, ekspresiku gak semelas dia. Mungkin karena aku memang gak terlalu 'cinta' sama perhiasan yang kujual ya?
Sekarang, aku masih punya beberapa perhiasan, tapi semua yang ada kenangannya (Aku emang agak2 sensitif soal barang2 berkenangan). Mudah2an gak perlu sampe menjual salah satu di antara segelintir sisa-sisa perhiasanku itu. Mungkin kalo sampe harus kejual, wajahku lebih melas dari si Ibu tadi...karena yang aku jual bukan perhiasannya, tapi kenangannya. Huhuhu...

Labels: ,

 
ditulis oleh Nadiah Alwi - Write at Home Mom pada jam 16:29 | Permalink | 3 komentar
Sep 10, 2007
Turut Berduka Cita

Aku 'kenal' Bebek sudah cukup lama. Beberapa kali aku main-main ke 'rumah'-nya. Di juga pernah maik ke 'rumah'-ku.

Dan, hari ini, aku baru saja mengetahui bahwa ia sudah dipanggil-Nya.

Selamat jalan, Bebek. Semoga amal ibadahmu menjadi penolongmu di hadapan-Nya. Amin.

Labels: , , ,

 
ditulis oleh Nadiah Alwi - Write at Home Mom pada jam 15:52 | Permalink | 0 komentar
Aug 24, 2007
Raisyah Ali Ditemukan...Alhamdulillah
Berita bisa dilihat di

sini

sini

dan

sini

Labels: ,

 
ditulis oleh Nadiah Alwi - Write at Home Mom pada jam 11:21 | Permalink | 0 komentar
Aug 20, 2007
Profesi Paling Menjanjikan di Indonesia: KORUPTOR!
Gak percaya?

Hm...mungkin perlu baca ini, ini, atau ini supaya lebih yakin.

Mulyana W. Kusumah bahkan dengan bangga menyatakan bahwa ia masih menjadi anggota KPU. Bahkan, ia menerima gaji selama mendekam di penjara. Dan, Rabu ini, ia siap 'bekerja' kembali di KPU.

Enak kan?

Makanya, mungkin anak2 harus dikenalkan pada profesi baru di Indonesia ini. Profesi yang paling menjanjikan. Dijamin gak akan susah!

Tinggal nyuri2 dikit, bagus2 gak ketahuan. Kalau ketahuan pun, hakim/jaksa bisa diajak 'damai.' Yah kalopun gak bisa damai, paling dipenjara bentar trus dapet remisi. Bahkan, masih bisa bergaji, dan bekerja lagi dengan normal. Pokoknya enak!

Labels:

 
ditulis oleh Nadiah Alwi - Write at Home Mom pada jam 11:14 | Permalink | 3 komentar
Aug 14, 2007
Minyak Goreng Ukuran 2 Liter Mencapai Angka 22 Rebu!
Waktu harga minyak goreng yang 2 liter naik sampai dengan 14 ribu, aku cuma bisa bilang, "Hmmhhh…"

Waktu harga minyak goreng yang 2 liter ini naik lagi sampai angka 17 ribu-an, aku pun mengurut dada.

Dan sekarang, waktu harga minyak goreng itu naik LAGI sampai 22 ribu, aku ESMOSI!
Gila!

Dikirain nyari duit gampang apa?!!!

Hiks…

Tadi pagi sempet ngebahas ama sodara yang istrinya jualan gorengan di bilangan Slipi. Dia ngeluh karena harga minyak goreng sekiloan yang kemarenan masih 8 ribuan, sekarang dah 10 ribu.

Aku bilang, "Naikin aja harga jualnya."

Dia menggeleng, "Ntar gak ada yang beli."

Miris. Sementara harga gak bisa dinaikin krn berimbas ke daya beli konsumen, dia juga gak bisa berbuat apa2 selain tetep beli minyak yang harganya makin mencekik itu.

Ini belum masuk bulan puasa yang biasanya harga kebutuhan pokok pada naik. Mo dijual berapa minyak goreng nantinya? 30 ribu per liter? Hiks!

Si sodara tadi nanya ke aku, "Kak (dia manggil aku kakak, ngikutin adik2ku hehehe padahal umurnya lebih tua hampir 10 tahun dr aku), kenapa sih minyak jadi mahal gitu?"

"Hm…kayaknya sih gara2 harga minyak kelapa sawit naik."

"Apa hubungannya?"

Nahlo…

"Soalnya minyak gorengnya dibikin pake kelapa sawit, Bang**. Udah yak, aku mo kerja dulu. Eh, ngomong2 itu bawa apa? Jirigen?"

"Iya, buat beli minyak tanah. Di rumah, kagak ada yang jual."

Ooh…Bang Amje, nasibmu. Udah susah gara2 harga minyak goreng melonjak, kudu ditambah dengan susahnya cari minyak tanah.

Aku mungkin harus bersyukur ya, karena cuma ‘jatuh’…sementara Bang Amje sudah jatuh tertimpa tangga pulak.

Indonesia…riwayatmu kini…hiks!

** Tdnya mo suruh Bang Amje baca ini atau ini, tapi...mungkin dia gak akan ngerti juga...hiks lagi!

Labels:

 
ditulis oleh Nadiah Alwi - Write at Home Mom pada jam 14:48 | Permalink | 6 komentar
Aug 12, 2007
[Resensi] Risalah Cinta oleh Helvy Tiana Rosa
Walau sebagian tulisan Mbak Helvy di buku ini pernah kubaca di multiply, namun aku tak menyesal membelinya, sama sekali.

Kisah-kisahnya memang terlalu bagus untuk tidak dibukukan. Sayang jika hanya segelintir orang yang dapat membacanya. Dengan mengumpulkannya dalam sebuah buku, akan lebih banyak lagi orang yang dapat menikmati rangkaian kisah hidup Mbak Helvy dan keluarga yang begitu menyentuh hati.

Aku tidak membacanya secara berurutan. Tulisan-tulisan yang pernah kubaca di MP Mbak Helvy kulewati. Tapi, akhirnya, tak tahan juga aku untuk membacanya lagi.

Semua kisah di dalamnya begitu menggugah. Jika harus memilih salah satu di antaranya, rasanya sulit sekali. Masing-masing terlalu indah untuk dijadikan lebih dari yang lain.

Apakah kisah ‘ijazah’ Mas Tomi kepada sang istri tercinta? Atau kisah sahabat-sahabat Mbak Helvy serta perjuangan mereka dalam berjilbab? Atau keindahan hati Faiz, sang buah hati? Aku tak bisa memilih.

Di setiap kisah, aku belajar. Ada senyum, tawa, hingga tangis saat kubuka lembar demi lembar halaman yang penuh cinta itu. Jika memang Mbak Helvy ada di sisiku saat itu, aku pasti sudah memeluknya.

Hatiku tergugah. Betapa Mbak Helvy bisa mengajarkan banyak hal tanpa menggurui, atau terkesan sombong. Betapa indahnya berbagi kebaikan dalam ketulusan.

Tak salah jika selama ini aku memang mengaguminya.

Terima kasih, Mbak, karena telah menyentuh dinding hatiku yang terdalam dengan rangkaian kata-kata indahmu.

* Terima kasih juga buat Otty yang sudah membantu membelikan buku ini, beberapa bulan yang lalu.*

Labels: , ,

 
ditulis oleh Nadiah Alwi - Write at Home Mom pada jam 15:59 | Permalink | 3 komentar
Aug 1, 2007
Kalimat Positif untuk Orang Di Sekeliling
Kadang tanpa sadar, mungkin aku pernah mengatakan sesuatu yang membuat orang lain down. Selesai aku mengucapkannya, mungkin aku langsung lupa.

Tapi, apakah yang mendengar akan lupa?

Bisa iya, bisa tidak. Kalau si pendengar tipe cuek bebek, mungkin akan masuk kuping kanan keluar kuping kiri.

Tapi, kalau ternyata si pendengar tipe orang yang sensitif atau pada saat itu sedang sensitif? Mungkin, kalimatku itu akan begitu mengenai hatinya, bahkan menghantam keras sekali.

Kadang, apa yang kita katakan memiliki efek begitu besar pada orang yang mendengar. Kadang nada judgemental yang keluar dari mulut kita bahkan memengaruhi jalan hidup seseorang, bagaimana ia melihat dunia, bagaimana ia memaknai hidup, bagaimana ia mengartikan persahabatan.

Pernah nonton acara Mario Teguh di O-Channel? Apa yang dirasakan setelah mendengar apa yang dikatakan Pak Mario? Kalau aku, hidup terasa lebih positif.

Sering ikut ceramah keagamaan? Apa yang dirasakan setelahnya? Kalau aku, hati lebih tentram.

Jadi, bayangkan betapa kalimat positif yang kita dengar membuat kita merasa lebih 'hidup.'

Itulah kenapa sebaiknya aku harus terus mencoba menahan diri untuk tidak mengeluarkan pernyataan-pernyataan negatif, terutama pada orang-orang yang 'curhat' sama aku. Orang yang curhat berarti dia sedang berada dalam situasi yang kurang mengenakkan. Kalau ditambah lagi dengan pernyataan negatif? Bukankah akan jadi lebih tidak mengenakkan baginya?

Tapi, bagaimanapun keadaannya, kalimat positif akan lebih enak terdengar di telinga dan terasa di hati. Kalimat positif mampu membangkitkan semangat yang sedang turun sekalipun dan semakin meningkatkan semangat yang sedang naik.

Aku masih belajar untuk membuat mulutku lebih banyak mengeluarkan kalimat-kalimat positif. Mudah-mudahan berhasil.

Aku-->mengeluarkan kalimat positif-->Pendengar bersemangat-->Pendengar-->mengeluarkan enerji positif-->Aku semakin positif.

"Siapa menabur angin akan menuai badai."

Labels: ,

 
ditulis oleh Nadiah Alwi - Write at Home Mom pada jam 11:56 | Permalink | 1 komentar
Jul 24, 2007
Hana, Jidah Kumpi, Taufik Savalas, Ikan dan Konsep 'Meninggal'

Tadi pagi, gak biasa-biasanya aku nyalain TV dan mencet RCTI--biasanya langsung TV7, mo nonton Selamat Pagi, jam stengah 8 soalnya. Dan, terpampanglah wajah Alm. Taufik di acara Arisan (sumprit, baru tau ada ini acara).

Langsung berasa sedih. Ngebayangin gimana keluarganya lihat wajah orang yang meninggalkan mereka selamanya di layar kaca.

Gak berapa lama, Hana, yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya--yup, skrg Hana masuk pagi secara dia udah kelas kiddy (usia 3-4 tahun)--, melongo liat TV.

Trus dia bilang, "Bunda, itu udah sembuh..."

"Siapa?"

"Itu..." Hana menunjuk ke Alm. Taufik.

Ya Allah...aku langsung inget perkataan Hana kalau dia lagi minta dibacain Alfatihah buat Alm. Jidah Kumpinya (Nenek Buyutnya aka Jidahku), "Iya, Hana bacain do'a buat Jidah Kumpi supaya cepet sembuh."

Kita suka tanya, "Emang Jidah Kumpi di mana skrg, Na?"

"Di rumah sakit."

Hmmm...kayaknya konsep dia tentang meninggal masih belum pas. Dia pikir, meninggal itu sama dengan sakit dan Jidah Kumpinya gak pulang2 krn belum sembuh. Takutnya pas Alm. Taufik di TV bgitu, dia pikir, konsep orang meninggal itu sakit dan bisa sembuh itu bener. Lah wong, itu ada di TV lagi. Dia kan nggak ngerti kalo itu taping. Tadi juga gak sempet jelasin krn dia dah harus berangkat skolah.

Padahal sekitar 1-2 bulan yang lalu, aku dah coba kenalkan konsep itu ke dia waktu ikan peliharaannya meninggal.

Jadi, ceritanya ikan yang ditarok di bowl itu meninggal karena nggak sengaja Hana menyenggol si bowl dan jatohlah, mana susah banget ditangkepnya tuh ikan. Emang sih tuh ikan udah agak lemes--jenis ikan yang kecil banget itu, yang kalo kata Abi umurnya gak panjang juga--, jadi pas ditangkep dah 'nggak ada.'

Aku ajak Hana buat bungkus itu ikan pake tissue putih, gali tanah depan rumah, menguburkan si ikan dan menebar bunga. Bahkan, Hana membacakan do'a buat si ikan. Setelah itu, aku jelasin kalau ikannya dah meninggal, nggak bisa balik lagi.

Aku pikir dia dah ngeh, tapi mungkin masih terlalu susah kali ya konsep itu buat anak seumur dia. Sampai aku SMP kebetulan dulu nggak ada keluarga dekat yang meninggal, jadi nggak ada yang jelasin ke aku juga tentang konsep meninggal karena pas SMP itu aku dah ngerti sih.

Kadang kalau Hana bilang kangen sama Jidah Kumpinya dan nanya kapan Jidah Kumpinya pulang, aku cuma bilang kalau Jidah udah ditempat yang enak sekarang dan kita harus selalu doain supaya Jidah Kumpi selalu bahagia.

Kalau temen2 gmana jelasin tentang konsep meninggal ke anak2? Mungkin yang anaknya dah gedean bisa share dulu gmana jelasinnya? Atau pernah ada yang dijelasin waktu masih kecil? Bagi2 yaaa...thanks!

*ternyata, masih ada sikap dan sifat Alm. Taufik yang bisa kita pelajari, kisahnya ada di MP-nya Pak Budiman ini.*

Labels: , , ,

 
ditulis oleh Nadiah Alwi - Write at Home Mom pada jam 16:10 | Permalink | 0 komentar
Jul 12, 2007
Innalillahiwainnailaihiroji'un - Taufik Savalas Selalu Ikhlas
Tadi pagi, kaget banget dibangunin sama Abi pas lagi merem lagi abis Subuh--secara semalem begadangin Hana yang gak bisa bobo gara2 pilek.

"Taufik Savalas meninggal," kata Abi.

"Innalillahiwainnailaihiroji'un."

Habis itu gak bisa tidur lagi, mantengin semua infotainment.

Tapi, ada satu kalimat Indro Warkop yang berkesan tentang Alm. Taufik, "Taufik kalau mengerjakan apapun selalu ikhlas."
Subhanallah...aku langsung berkaca. Sudah ikhlaskah aku?

Sudah ikhlaskah kita?

Terima kasih, Mas Taufik (dan Oom Indro yang mengucapkannya), walau kau telah pergi, engkau telah mengajarkan sesuatu kepadaku.

Ya Allah, berilah kekuatan kepada seluruh keluarga Alm. Taufik Savalas. Amin.

*Foto dipinjam dari figurpublik.com.*

*Berita lengkap bisa dibaca di sini dan link2 yang lainnya di situs yang sama.*

Labels:

 
ditulis oleh Nadiah Alwi - Write at Home Mom pada jam 10:40 | Permalink | 0 komentar